Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2016



IFTAR DI BERBAGAI NEGARA


In Indonesia iftar is called "buka puasa", which means "to open the fast". Markets sell various foods for iftar, including the date, which is popular, as well as unique Indonesian food and drink such as kolakes kelapa mudaes buahes campur,cendol or dawet, etc. Most of them are only found easily in Ramadan.
Maghrib time is marked by the Bedug, a traditional Indonesian drum. After Asr prayers, traditional markets will begin to open. The food stalls generally sell many kinds of items that are specifically for "iftar". Traffic jams often occur leading up to Maghrib time. Sometimes people invite groups of orphans to eat with them. After iftar, people go to the mosque for Isha'aand Tarawih prayer, which, in Indonesia, is often accompanied by a sermon
Here are some iftar "party" around the world :
1. Istambul - Turkey

2. London - England

3. Makkah & Madinah - Saudi Arabia

4. Gaza - Palestine

5. Cairo - Egypt

6. Dhaka - Bangladesh

7. New York - USA

8. Islamabad - Pakistan

9. Jakarta - Indonesia

(sources : wikipedia, buzzfeed, and others)

Kamis, 21 Januari 2016



5 FILM TENTANG GURU YANG INSPIRATIF


5. KINDERGARTEN COP


      Ceritanya tentang  seorang anggota kepolisian yang gagah dan berdedikasi dalam jobnya. Ia mendapat misi untuk menangkap seorang pengedar narkoba bernama Cullen Crisp. Buronan tersebut hanya bisa diendus keberadaannya dengan cara menemukan mantan pasangannya, yang ternyata bersekolah di sebuah TK di wilayah Oregon. Agar tidak memunculkan kecurigaan, John Kimble mesti melakukan penyamaran sebagai guru TK. 
      Ceritanya tentu unik dan menggelitik. Ditambah lagi dengan pemain utamanya, Arnold Schwarnenegger, yang biasanya tampil dalam film action. Dalam film ini Arnold berperan sebagai detektif John Kimble, ceritanya dijamin seru dan penuh tawa.

4. THE PRINCIPAL



        The Principal rilis pada tahun 1987. Aktornya, James Belushi, berperan sebagai Rick Latimer. Dia merupakan seorang guru SMA, yang sayangnya terjerat masalah minum-minuman. Sampai suatu hari, dia memergoki mantan isterinya tengah bersama lelaki lain di sebuah bar. Emosi yang bergejolak membawanya pada pertengkaran. Kejadian itu tentu menjadi perhatian sekolah.
      Khawatir dengan reputasi sekolah, mereka pun memindahkan Rick ke tempat lain. Sekolah barunya tidak terlalu kondusif. Seperti biasa, ada geng murid bengal yang gemar berbuat kriminal. Rick yang bertekad berubah menjadi lebih baik mesti menghadapi berbagai tes, yang tak jauh datang dari sekolah barunya.

3. FREEDOM WRITERS


      Dirilis di tahun 2007, film ini  membetot perhatian penonton. Lebih lagi aktris sekaliber Hillary Swank terlibat di dalamnya. Tokoh utamanya, Erin Gruwell, membawa niat baik untuk mengajar di sebuah kelas yang ada di SMA Woodrow Wilson. Dia sendiri memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, berdedikasi serta idealis. Namun ia memang tulus mengajar di kelas tersebut, meski isinya penuh oleh anak-anak yang bermasalah.


2. LEAN ON ME



        Diperankan oleh Morgan Freeman yang tampil sebagai Joe Clark. Ia merupakan guru yang mendedikasikan dirinya untuk SMA papan atas, Eastside High School. Namun tanpa alasan yang jelas, pihak sekolah memecatnya. Sepeninggalnya dari sekolah, keadaan memburuk. Murid sulit dikendalikan, terlibat aktivitas kriminal, nilai anjlok, angka kelulusan merosot, dsb. Karena ancaman pengambilalihan oleh pemerintah, pihak sekolah memanggil Joe Clark kembali pasca 20 tahun dari pemecatannya.
       Joe Clark tidak lagi tampil sebagai guru, melainkan kepala sekolah. Ia membuat peraturan sendiri. Gebrakannya yaitu dengan mengeluarkan siapapun murid yang terkait dengan urusan narkoba, memecat staff guru yang tidak setuju dengan kebijakannya serta mensosialisasikan misinya bersama orang tua murid. Keadaan yang dihadapi tentu tidak simpel. Satu kebijakan berbuah solusi, sekaligus masalah lain. Yang hendak ia ubah dan perbaiki memang bukan 1 murid atau 1 kelas, melainkan keseluruhan sekolah

1. DEAD POETS SOCIETY

      Ini sebagai salah satu film Robin Williams yang terbaik dan paling dikenang. Di sini dia berperan sebagai John Keating, seorang pengajar Sastra Inggris yang memberi warna di Akademi Welton. Sebagaimana yang digambarkan, tempat pendidikan tersebut sangat disiplin dan menerapkan sistem yang ortodok atau begitu ‘kolot’. Namun Keating begitu berbeda. Dia menginspirasi siswa untuk lebih berani, melihat kehidupan  dari sisi berbeda dan mengejar apa yang diimpikan, selagi baik dan ada peluang.
    Para siswa sangat menyukai dan menuruti ajarannya. Mereka bahkan mengetahui kalau Keating adalah mantan murid Akademi Welton, sekaligus anggota dari komunitas “Dead Poets Society”. Karenanya, sekelompok siswa tersebut berusaha menghidupkan kembali komunitas itu. Namun masalah demi masalah muncul dan memuncak sampai ada siswa yang bunuh diri dan Keating dipecat.

sumber :  ngasih.com, creofire.com, proswrite.com, movieposter.com




















Rabu, 14 September 2011

ALPAM’S BACK-PACKING TO BADUY ( part 2 )

RUTE KE BADUY

Untuk perjalanan ke Baduy, kami harus menggunakan beberapa moda-transportasi. Pukul 07.30 kami berkumpul di rumah Mr. Darman di Stasiun Rawabuntu, sekaligus sebagai base-camp. Dari stasiun Rawabuntu kami naik kereta ke Rangkasbitung dan tiba di sana sekitar pukul 10.30. Kemudian dilanjutkan dengan naik angkot ke Lebak (???). Sambil menunggu mobil carteran, kami beristirahat sekaligus makan siang di sekitar terminal. Menunya sederhana, tapi mantap luar biasa. Maklum dalam kondisi starving alias lapar berat.



Perjalanan dilanjutkan dengan naik mobil Elf ¾ yang kami-carter. Setelah menempuh waktu kira-kira dua jam perjalanan, dengan medan yang lebih meliuk dibanding ke Puncak, dan lebih seru dibanding rute Paris-Dakkar (soalnya belum pernah ke sana, siihh), maka kami sampai di sebuah desa yang merupakan perbatasan dan gerbang menuju ke kampung Baduy Luar dan Dalam.



Untuk menuju ke Kampung Baduy, kami harus berjalan kaki kurang lebih selama dua setengah jam (OMG : dua setengah jammmm) dengan naik-turun tiga-empat bukit, menyeberangi sembilan sungai dan beberapa jembatan bambu, keluar-masuk beberapa perkampungan Baduy Luar, belasan kelokan jalan pintas di tengah hutan, dan beberapa sawah dan ladang.
Bisa kebayang kondisi dengkul dan kaki ini. Karena memang hanya itu satu-satunya sarana untuk menuju ke sana, dan memang harus dengan berjalan. Jadi jangan berharap ada ojek ke kampung itu, apalagi ngarepin taxi lewat ##@%^&**$???!!!



Dan akhirnya…., alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah!! Kira-kira jam lima kurang kami sampai juga ke Kampung Cibeo, salah satu dari tiga kampung di Baduy Dalam / Baduy Kajeroan. Dua kampung lainnya adalah Cikawartana, dan Cikeusik.
Jarak Kampung Cibeo – Jakarta adalah sekitar 120 km. (Gak percaya, bawa meteran-ukur sendiri!!)
Kampung-kampung di Baduy terletak di ketinggian 500-1.200 meter di atas permukaan laut (gak percaya juga…????) dan berada di Pegunungan Kendeng yang merupakan daerah hulu Sungai Ciujung.



Di sana kami di tampung di salah satu warga Cibeo, namanya Bapak Sarminah. Di rumah beliaulah, selama satu sore-satu malam itu kami tinggal, mengamati, menikmati dan merasakan sendiri kehidupan di sebuah kampung Baduy. Sebuah kampung terpencil, di tengah hutan dan jauh dari peradaban modern.


KEHIDUPAN A LA BADUY

Kami merasa takjub, kagum dan salut dengan saudara-saudara kita warga Baduy ini. Mereka begitu bersahaja dan sederhana. Hidup mereka begitu damai.

Di tengah-tengah kehidupan modern yang sangat hedonis dan materialistis, mereka mampu dan tetap mempertahankan adat-istiadatnya, utamanya dalam merawat dan memelihara alam.
Bayangkan, mereka hidup dengan tanpa fasilitas yang  menurut kita merupakan standar pokok dan wajib ada.



Ø  Di sana tidak lampu, tidak ada listrik (apalagi TV), tidak ada telepon (boro-boro wi-fi), tidak ada sumur, tidak ada kamar mandi, tidak ada WC, tidak ada perabotan-perabotan rumah tangga, dll.
(FYI : kami dijamu dengan air yang sangat segar yang disuguhkan di gelas bambu, karena gak ada gelas kaca apalagi mug, dan konon air itu diambil di sungai – tempat kami mandi, cuci, and pissss)
Ø  Tidak boleh merokok, waktu mandi tidak boleh pakai sabun, tidak boleh menggunakan wewangian, tidak boleh memotret, dll.
Ø  Mereka tidak memakai alas kaki, tidak makan daging (kecuali pada waktu upacara adat), mereka pantang naik kendaraan, dll.

Jadi kalau malam, di kampung ini gelap gulita. Di dalam rumah pun hanya ada setitik pelita dari minyak kelapa. Tak ada suara, tak ada kegaduhan.
Bintang-bintang di langit nampak dekat dan nyata. Rasi-rasi bintang begitu jelas. Suatu hal yang mustahil kita saksikan di langit Jakarta.



Masyarakat Baduy, memiliki kepercayaan dengan nama Sunda Wiwitan. Mereka mempunya filosofi sederhana :

”Pondok teu meunang disambung, nu lojor teu meunang dipotong”
(yang pendek tak boleh disambung dan yang panjang tak boleh dipotong).
Maknanya, masyarakat Baduy pada dasarnya menerima alam sebagaimana adanya.

ALPAM’S BACK-PACKING TO BADUY ( part 1 )

KOMUNITAS BACK-PACKING AL-AZHAR (KOBAR)

Pada hari Senin-Selasa, tanggal 5 - 6 September 2011 yang lalu, kami beberapa guru & karyawan SD Islam Al-Azhar 15 – Pamulang (lebih keren dengan sebutan ALPAM), mengadakan petualangan ke kampung Baduy. Momen ini sekaligus menandai terbentuknya komunitas back-packing Al-Azhar (ALPAM khususnya).



Kegiatan backpacking seringkali diartikan sebagai sebuah kegiatan wisata dengan melakukan suatu perjalanan dengan berbiaya rendah tetapi mengasyikkan, dengan tanpa dibatasi formalitas seperti ketika kita mengikuti touring bersama travel agent.

Kegiatan back-packing yang diadakan bukan sekedar ingin berhura-hura atau bersenang-senang semata, tetapi secara religi, mempunyai muatan ingin lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta (ceilee…), sekaligus kegiatan tadabur dan semangat ingin lebih mengenal alam, budaya, masyarakat. serta kehidupan di tempat lain. Dengan demikian, kita akan lebih merasa dekat dengan alam ciptaan Allah, dan memahami budaya lain, serta terjalin ukhuwah dengan masyarakat dari daerah yang kita kunjungi.


PETUALANGAN PERTAMA : KE BADUY DALAM

Petualang pertama ini sebenarnya merupakan pelampiasan “kesepian” dari beberapa teman yang selama libur lebaran ini bingung mau kemana. (hihihii… makanya ikut pulang kampung, biar gak pada BETE!!)



Beberapa hari pasca lebaran, dan masih eneg dengan sensasi lebaran yang mundur, maka pada waktu mereka bersilaturahim ke rumah, kami dan beberapa teman merencanakan petualangan pertama ini. Setelah berdiskusi dengan panas dan seru, dan menghabiskan beberapa gallon es sirup, bertoples-toples kacang, serta bermangkuk-mangkun mie rebus (Heheheee.. gak bermaksud nginget-inget jamuan bertamu ya. Tapi biar keliatan seru aja!), maka diskusi memutuskan back-packing pertama ini ke daerah Baduy.

Akhirnya, dengan persiapan yang pas-pasan, kami berdua-belas pun nekat mengadakan perjalanan tersebut. Di saat penduduk planet Indonesia tengah berjuang – bermacet – berebut jalan agar bisa kembali ke belantara Ibukota, kami dengan ngos-ngosan menjelajah hutan dan merangkak menaiki bebukitan kayak orang kurang kerjaan dan gak punya utang (pede aja man!!)



Siapakah petualang-petualang amatiran tersebut?
Here we are : Mr. Darman, Mr. Ferry, Mr. Iwo, Mr. Hilman, Mr. Fahmi, Mr Aldo and friend, Mr. Rohmani, Mr. Akim, and me-myself Mr. Yanto. (plus guide-nya lupa namanya)
Tapi yang gak kalah semangatnya adalah Mr. Rohim ??? (suami Mrs Rini). Meskipun sudah terlambat karena ketinggalan kereta, beliau nekat mengejar-ngejar kereta demi ambisi supaya bisa ikut berpetualang dan ingin merasakan tidur di kampung Baduy. 
 Dengan mengendong putrinya (Sevilla, peserta termuda, dan satu-satunya yang mewakili kelompok perempuan) beliau akhirnya dapat menyusul kami di stasiun Rangkasbitung. Rrruarrr biasssaa, hebat.. hebat…!! (Bravo Sevilla!)