Sabtu, 04 Februari 2012

MAULID (part 1) : KISAH TELADAN RASULULLAH



"Allahuma shali 'ala Muhammad... Marilah kita menyampaikan salam dan shalawat kepada Baginda Rasulullah SAW.
Pada peringatan Maulid ini, mari kita sejenak mengingat sejarah tentang kehidupaan beliau, insya Allah kita mendapatkan ibrah darinya.
  1. Pada suatu hari Baginda Nabi sedang duduk-duduk dengan para sahabatnya menunggu saat shalat tiba. Tiba-tiba datanglah seorang sahabatnya yang baru saja pulang dari pesta makan daging. Maka terciumlah bau yang kurang sedap dalam majelis itu. Rasulullah menyadari bahwa bau-bauan itu disebabkan oleh uap napas seseorang akibat makan daging yg berlebihan. Rasulullah juga menyadari bahwa orang yang bersangkutan ada dalam kedudukan sulit sekali. Mereka tentulah sudah berwudhu semua. Karena sebentar lagi akan shalat berjamaah. Kalau orang yang berbau kurang sedap itu beranjak seorang diri pergi berwudhu’, ketahuanlah dia sumber bau kurang sedap itu. Tentu dia bisa jadi malu dan gelisah. Beliau ingin pelaku yang sebenarnya bisa menyadari tanpa diketahui oleh banyak orang.

    Rasulullah saw. melepaskan pandangannya kepada semua yang hadir, seraya memerintahkan : “Siapa yang makan daging tadi hendaknya berwudhu!” 
    "Semuanya telah memakan daging ya, Rasulullah!", jawab para sahabat. Lalu beliau bersabda : “Kalau begitu, berwudhulah kalian semua.”

    Mereka bangkit semua pergi berwudhu. Termasuk orang yang merupakan sumber datangnya bau kurang sedap itu. Orang ini telah diselamatkan air mukanya dari rasa malu, berkat kecerdikan dan kelambutan Rasulullah saw.

    (Demikianlah keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad saw. memperhitungkan tindakan sampai sekecil-kecilnya pun agar tidak melukai perasaan orang dan kehormatan orang lain).

  2. Seorang telah datang menemui Rasulullah s.a.w.  dan telah menceritakan kepada Baginda s.a.w. tentang kelaparan yang dialami olehnya. Kebetulan pada ketika itu Baginda s.a.w. tidak mempunyai suatu apa makanan pun pada diri Baginda s.a.w. mahupun di rumahnya sendiri untuk diberikan kepada orang itu. Baginda s.a.w. kemudian bertanya kepada para sahabat,"Adakah sesiapa di antara kamu yang sanggup melayani orang ini sebagai tetamunya pada malam ini bagi pihak aku?" Seorang dari kaum Ansar telah menyahut, "Wahai Rasulullah s.a.w. , saya sanggiup melakukan seperti kehendak tuan itu."

    Orang Ansar itu pun telah membawa orang tadi ke rumahnya dan menerangkan pula kepada isterinya seraya berkata, "Lihatlah bahawa orang ini ialah tetamu Rasulullah s.a.w. Kita mesti melayaninya dengan sebaik-baik layanan mengikut segala kesanggupan yang ada pada diri kita dan semasa melakukan demikian janganlah kita tinggalkan sesuatu makanan pun yang ada di rumah kita." Lalu isterinya menjawab, "Demi Allah! Sebenarnya daku tidak ada menyimpan sebarang makanan pun, yang ada cuma sedikit, itu hanya mencukupi untuk makanan anak-anak kita di rumah ini ?"

    Orang Ansar itu pun berkata, "Kalau begitu engkau tidurkanlah mereka dahulu (anak-anaknya) tanpa memberi makanan kepada mereka. Apabila saya duduk berbual-bual dengan tetamu ini di samping jamuan makan yang sedikit ini, dan apabila kami mulai makan engkau padamlah lampu itu, sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali supaya tetamu itu tidakk akan ketahui bahawa saya tidak makan bersama-samanya." Rancangan itu telah berjalan dengan lancarnya dan seluruh keluarga tersebut termasuk kanak-kanak itu sendiri terpaksa menahan lapar semata-mata untuk membolehkan tetamu itu makan sehingga berasa kenyang. Berikutan dengan peristiwa itu, Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud, "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan." (Al-Hasy : 9)

  3. Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta selalu berkata kepada orang-orang yang lalu lalang, "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". 
    Walaupun mendengar dirinya dicaci, namun setiap pagi Rasulullah s.a.w. mendatangi pengemis itu dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun. Rasulullah s.a.w. menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu terus menhina dan menyumpahinya, tanpa mengetahui bahwa orang yang disumpahi itu selalu menyuapinya.
    Rasulullah s.a.w  melakukan hal tsb hingga menjelang wafat. Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

    Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja".
    "Apakah itu?", tanya Abubakar r.a. 
    "Setiap pagi Rasulullah s.a.w. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

    Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. 
    Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?". 
    Abubakar r.a menjawab, "Aku orang yang biasa menyuapimu".
    "Bukan, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

    Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang selalu menyuapimu adalah Muhammad Rasulullah s.a.w. Orang yang mulia itu kini telah tiada."
    Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi? Ia begitu mulia....!"
    Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar r.a.

    Dan masih banyak contoh-contoh perilaku beliau yang bisa kita tauladani sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Semoga rahmat dan keselamatan senantiasa tersampaikan kepada Baginda SAW. 
    (sumber : iappi-kisah teladan, tanbihul ghafilin, el munir.edu, al-kisah.web)

PANCASILA DALAM BERBAGAI BAHASA DAERAH







Versi-ne Wong Jowo:

Siji: Gusti Allah gak nduwe konco
Loro: Dadi wong ojo kejem-kejem lan kudu adil
Telu: Mangan ra mangan sing penting kumpul
Papat: Nek ono masalah dirembuge bareng-bareng
Limo: Yen entuk rejeki kudu keduman kabeh, pokoke sing adil

Versi Sunda:

Hiji: Gusti Allah eta sorangan sareng ageng pisan
Dua: Ka sorangan teh sikapna kudu sami, ulah ngabeda-beda keun
Tilu: Indonesia kuduna mah jadi hiji
Opat: Rakyat Indonesia sae na pang mutuskeun sagala teh disepakatkeun
heula. Kedah bager lan bijaksana
Lima: Ceunah teh sikap sosialna kudu adil hiji sareng batur.


Versi Batak Toba:

Sada: Dang adong na pajago-jagohon di jolo ni Debata
Dua: Maradat tu sude jolma
Tolu: Punguan ni halak Indonesia
Opat: Marbadai ... marbadai, dungi mardame
Lima: Godang pe habis saotik pe sukkup

Versi Palembang:

Sute: Tuhan ne sute tu'la
Due: Jelme harus khapat same rate
Tige: jelme Indones iane bersatu padu
Empat: Jeleme Indonesiane diketuci ngai hikmah dimane ngedapatkan
jawaban dadi gegale masalah
Leme: kesameratean hidup ne jelmekangok Indonesia

Versi Ambon:

Torang samua tawu cuma ada Tuang Allah yaitu Tete manu
Orang ambon samu harus tau adat
acang deng obet harus bisa bakubae
Paitua deng maitua harus bae-bae di rumah rakyat
samu harus bisa jaga diri karna ambon lapar makan orang

Versi Manado:

Cuma boleh ba satu Tuhan
Selalu adil kong ja pake ontak
Torang samua satu, Bangsa Indonesia
Tu rakyat musti slalu bakumpul kong bicara bae-2 spy slalu ada
kaputusan gagah yg semua trima deng nang hati
Voor seluruh rakyat Indonesia, nyanda ada tu jabaku kase beda-2
perlakuan

Versi Padang:

Ciek: Bintang Basagi Limo
Duo: Rantai pangikek kudo
Tigo: Pohon baringin gadang ta'mpek kito bacinto
Ampek: Kapalo banteng bataduk duo
Limo: padi jo kapeh pambaluik nan luko

 ( from many sources )

Selasa, 31 Januari 2012

TEH GINASTEL



Bagi anda yang hobi nge-teh tentu kenal dengan istilah ini; GINASTEL. Sebenarnya istilah per-ngetehan ini hanya populer 
di daerah Jawa Tengah, Solo khususnya. 

GINASTEL ini artinya teh yang disajikan 
dalam keadaan LEGI (manis), PANAS, dan KENTEL (kental).

Tentu bisa kebayang betapa nikmatnya rasa teh ini, 
terlebih-lebih kalau dinikmati pada saat Januari yang basah ini.

Terlebih-lebih lagi kalau dihidangkannya 
dengan cankir-cangkir cantik seperti ini :

















SEMUA BAYI BISA MENJADI JENIUS



SETIAP orang tua pasti bermimpi memiliki anak yang cerdas seperti Albert Einstein. Kabar gembira itu datang. Beberapa penelitian membuktikan mimpi itu tidak terlalu muluk. Gagasan ini sebenarnya sudah pernah dikemukakan oleh Plato. Nah sekarang ini penelitian baru yang dilakukan oleh University of Missouri telah mengkonfirmasi gagasan filsuf besar ini.
 
Plato memiliki keyakinan bahwa semua bayi dilahirkan dengan pengetahuan intuitif fisika. Apakah ini berarti bayi Anda adalah Einstein berikutnya? Tidak cukup sampai di situ. Bayi tidak dilahirkan dengan pengetahuan bawaan dari teori relativitas atau hukum-hukum Newton tentang gerak.



“Kami percaya bahwa bayi yang lahir dengan pengetahun tentang benda-benda di sekitar mereka. Saat anak bertumbuh, pengetahuan ini disempurnakan dan akhirnya dibawa hingga dewasa,” kata Profesor di University of Missouri Kristy van Marle.
Dalam review literatur ilmiah 30 tahun terakhir, Van Marle menemukan bayi pada usia dua bulan memiliki pemahaman intuitif gravitasi. Anak itu mampu mengantisipasi benda yang tidak ada penahan akan jatuh. Selanjutnya, di usia lima bulan, bayi mampu memahami zat non-kohesif seperti pasir atau air yang tidak solid.

Lalu bagaimana untuk mengasah kemampuan intuisi fisika si anak agar kelak bayi bisa cerdas seperti Einstein? Sering-sering berkomunikasi dengan bayi Anda. Usia 4-5 bulan ketika bayi sedang lucu-lucunya justru merupakan usia emas. Saat itu otak bayi mampu menyerap berbagai bahasa dengan baik. Jika cukup nekat, mungkin Anda bisa perkenalkan bayi Anda dengan istilah-istilah filsuf.

(sumber : metrotvnews.com & physics.com)

Senin, 30 Januari 2012

SEMANGAT BELAJAR - BELAJAR UNTUK SEMANGAT


Membaca berita di media tentang kondisi sekolah dan sarana belajar di daerah memang sungguh memprihatinkan. Sementara itu bagi bapak-bapak wakil kita di Senayan sibuk membayangkan "cipratan" dana dari renovasi toilet, renovasi parkir, dan tetek-bengek perbaikan di kantornya, sehingga lupa memikirkan kondisi warga yang seharusnya menjadi amanahnya. (mode : BIJAKSANA on)


Kita pun patut mengacungi jempol kepada para pelajar - murid - siswa kita yang tetap bersemangat pergi ke sekolah untuk belajar, walau harus melalui medan yang berbahaya. 
Mereka harus melewati sungai hanya dengan bergantung pada sisa-sisa jembatan yang hampir rubuh. Sebuah perjuangan yang luar biasa demi niatnya untuk bisa belajar di sekolah. 

Bagi anak-anak yang tinggal di kota pun, mereka tetap semangat meski harus pergi ke sekolah walau di liputi rasa malas karena udara dan cuaca Januari yang ekstrim dengan curah hujan dan angin puting beliungnya.



Semoga dengan semangat dan motivasinya, mereka kelak dapat menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang lebih 'cerdas" dan lebih amanah dibandingkan dengan Bapak-bapak sekarang yang tengah berkuasa. Amin!



" ... kemudian pada hari itu, kamu akan ditanya tentang harta kenikmatan (harta) yang kamu megah-megahkan di dunia itu ..."
( QS. at Takaatsur / 102 : 8 )

Bercermin dari anak-anak tadi, kita pun sebagai orang tua - dengan bermacam profesi dan kesibukan, tentu juga harus bersemangat dalam bekerja untuk menjaga kualitas dan produktifitas kinerja kita.
Terlebih-lebih, pada bulan Rabi'ul awwal ini, di tengah-tengah kita memperingati Milad Nabi Muhammad SAW, kita juga bisa mencontoh semangat dan kedisiplinan beliau. Rasulullah adalah seorang guru di tengah umatnya, beliau juga seorang jenderal yang sangat gigih. Selain itu Nabi Muhammad adalah seorang politikus yang adil dan juga seorang kepala rumah tangga yang sholeh.
Dengan empat tugas yang harus diemban, tapi beliau tidak pernah mengeluh bahkan raut wajahnya selalu memancarkan senyum semangat.

Dalam lingkungan kehidupan sekitar pun sebenarnya juga banyak contoh-contoh yang menggambarkan betapa semangatnya mereka walau dengan kehidupan yang sangat sederhana, dan di tengah cobaan hidup yang sangat berat.
(Moga-moga mereka senantiasa diberi kekuatan dan ketabahan... Amin!)

( Sumber gambar : aksesdunia.com, radarbogor.com)




Selasa, 24 Januari 2012

ASAL MULA NAMA-NAMA MARGA BATAK



            Bukan bermaksud menyebar masalah SARA, tapi sekedar ingin berbagi. Ternyata nama-nama saudara kita dari suku Batak itu ada sejarahnya. Mau tahu...? Mau tahu...?

Ini dia ceritanya :

        Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang pendekar wanita, Butet namanya. Sebelum lulus dari Pandapotan silat, ia harus menempuh ujian Nasution. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke gunung dan berlatih.

      Saat di perjalanan, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu setempat. Beberapa pemuda tanggung yang lagi nonton sabung ayam sambil Toruan, langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi dan gayanya yang Hotma itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa menanggapi, meskipun sebagai perempuan yang ramah tapi ia tak gampang Hutagaol dengan sembarang orang.

       Naibaho ikan gurame yang dibakar Sitanggang dengan Batubara membuatnya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan Nababan yang hijau segar. Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan ke sana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya banyak Pohan. Kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa diantaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.

       Begitu sampai di atas gunung, Butet berujar "Wow, Siregar sekali hawanya" katanya, berbeda dengan kampungnya yang Panggabean. Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan, sambil diiringi Riama musik dari mulutnya. Sejauh Simarmata memandang warna hijau semuanya. Tidak ada tanah yang Girsang, semuanya Singarimbun.

      Tampak di seberang, lautan dan ikan Lumban-lumban. Terbawa suasana,mulanya Butet ingin berenang. Tetapi yang ditemukannya hanyalah bekas kolam Siringo-ringo yang akan di-Hutauruk dengan Tambunan tanah. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir hutan saja,yang suasananya asri, meskipun nggak ada Tiurma melambai kayak di pantai.

      Sedang asik-asiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seekor ular yang sangat besar. "Sinaga!" teriaknya ketakutan sambil lari Sitanggang-langgang. Celakanya, dia malah terpeleset dari Tobing sehingga bibirnya Sihombing. Karuan Butet menangis Marpaung-paung lantaran kesakitan. Tetapi dia lantas ingat, bahwa sebagai pendekar pantang untuk menangis. Dia harus Togar. Maka, dengan menguat-nguatkan diri, dia pergi ke tabib setempat untuk melakukan pengobatan.

     Tabib tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk menolongnya. Tabib bilang, bibirnya harus di-Panjaitan.  "Hm, biayanya Pangaribuan" kata sang tabib setelah memeriksa sejenak.

       "Itu terlalu mahal. Bagaimana kalau Napitupulu saja?" tawar si Butet.
       "Napitupulu terlalu murah. Pandapotan saya kan kecil".
       "Jangan begitulah. Masa' tidak Siahaan melihat bibir saya Sihombing begini? Apa saya mesti Sihotang, bayar belakangan? Nggak mau kan ?"
       "Baiklah, tapi pakai jarum yang Sitompul saja" sahut sang mantri agak kesal.
"Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih sedikit tidak apa-apalah".

       Malamnya, ketika sedang asik-asiknya berlatih sambil makan kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajagukguk. Dia Bonar-bonar ketakutan. Apalagi ketika mendengar suara di semak-semak dan tiba-tiba berbunyi "Poltak!" keras sekali.

       "Ada Situmorang?" tanya Butet sambil memegang tongkat seperti stik Gultom erat-erat untuk menghadapi Sagala kemungkinan.

       Terdengar suara pelan, "Situmeang". "Sialan, cuma kucing..." desahnya lega. Padahal dia sudah sempat berpikir yang  Silaen-laen. Selesai berlatih, Butet-pun istirahat. Terkenang dia akan kisah orang tentang Hutabarat di bawah Tobing pada jaman dulu dimana ada Simamora, gajah Purba yang berbulu lebat. Keesokan harinya, Butet kembali ke Pandapotan silatnya. Di depan ruang ujian dia membaca tulisan: "Harahap tenang! Ada ujian.

      "Wah telat, emang udah jam Silaban sih". Maka Siboru-boru dia masuk ke ruangan sambil menyanyi-nyanyi. Di-Tigor-lah dia sama gurunya "Butet, kau jangan ribut!, bikin kacau konsentrasi temanmu!"

      Butet, dengan tanpa Malau-malau langsung Sijabat tangan gurunya, "Nggak Pakpahan guru, sekali-sekali?!".

      Akhirnya, luluslah Butet dan menjadi orang yang disegani karena mengikuti wejangan guru Pandapotan silatnya untuk selalu, "Simanjuntak gentar, Sinambela yang benar!"



(cerita kacau hasil copast dari : grace.dagdigdug.com)

PANTUN ANAK : Sayang Keluarga




Tuan guru tinggi ilmunya
Bersemedi di dalam gua
Kita bisa hidup bahagia
Karena jasanya orang tua

Duduk sendiri di dalam huma
Angin semilir sejuk rasanya
Ingatlah teman, letaknya surga
Di bawah telapak kaki ibunda

Petani tua mengangkat bata
Jatuh di kaki hingga luka
Sungguh celaka hidup kita
                                                Bila tak bakti pada mereka



Kain sorban putih warnanya
Habis dicuci harus dibilas
Pengorbanan ayah dan bunda
Tak akan bisa kita membalas

Menjahit baju pakai benang
Biar indah ditambah pita
Pergi pagi pulangnya petang
Itu pengorbanan ayah kita

(Buat anak-anak, semoga pantun tersebut menambah sayang dan patuh kita kepada kedua orang tua) 

Senin, 23 Januari 2012

RAKER

        

      Tahun ajaran 2012/2013 masih beberapa bulan ke depan. Namun, kami harus menyiapkan rencananya sedini mungkin. Ada beberapa yang harus kami siapkan, sehingga kami perlu mengadakan Rapat Kerja dengan semua komponen sekolah. Kegiatan Raker akan kami adakan dalam beberapa session, dengan tema pembahasan yang berbeda tiap sesi-nya.

       Untuk sesi pertama ini kami menyiapkan Kurikulum untuk tahun depan. Dengan masukan-masukan dari Bp Pengawas, Bp Sie Kurikulum, Ibu Komite/Jam'iyyah, kami menyusun draf Kurikulum tsb.

Muatan kurikulum, sebagai core dari dokumen tsb, menjadi pembahasan yang paling 'seru'. Dari bab tersebut, kita akan tahu, bagaimana-berapa jam-apa yang akan disampaikan dalam KBM tahun depan.

(to be continued....) 

Sabtu, 21 Januari 2012

KONDISI : MOOD OFF



Kegiatan belajar : rehat.
Libur beberapa hari, utamanya untuk memperingati Tahun Baru Imlek (Selamat Tahun Baru, buat teman-teman yang merayakannya).

Tapi, justru pada 'durasi' waktu luang seperti ini, penyakit jenuh & 'bored feeling' sering menguasai.

Ternyata asyik juga ketika kita mencoba untuk mengisinya dengan kegiatan positif : acara keluarga; field-trip keluarga, kerjabakti menata kamar anak-anak kita, mencoba resep baru mereka.

Atau, mencoba menulis kembali, setelah beberapa pekan melalui 'masa-masa-tak-produktif-karena-rutinitas-kantor.

Tapi, apa yang mau ditulis, sementara pikiran & energi kita masih harus tercurah pada "Persiapan Kegiatan A,B,C,D,... Yang Sudah Menunggu di Depan Mata"

Minggu, 08 Januari 2012

MINGGU PAGI AWAL JANUARI



Hujan rintik telah usai
udara masih basah
mentari belum tampak
tapi tetap hangat
tak hendak bermalasan
karena banyak hal yang bisa kita lakukan



Like singing this song ???

BRUNOOOOO MARSSSSS :